Jadi, dua-duanya kita tidak bisa saling menyalahkan, gara-gara demand, tapi memang untuk tadi kita ngomong skala ekonomi, itu kuncinya ada di demand. Kalau ada yang mau beli, tentu industri harus
Jakarta Para pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) harus terus memperbarui data produk dan penjualan di pasar online.
StrategiBersaing dengan Kompetitor oleh : RIANTO NURCAHYO, SE. MM Setelah mempelajari dari pemaparan ini diharapakan peserta dapat Memahami tentang strategi yang harus diketahui oleh UMKM dalam bersaing dengan Kompetitor Menerapkan strategi bersaing UMKM dengan kondisi nyata di lapangan Kompetitor sebagai sarana belajar "Kami menjadikan kompetitor itu sarana belajar. Dimana tentu ada uji
Fast Money. Kalangan industri dalam negeri masih kerap berkutat dengan persoalan persaingan produk lokal dengan produk impor di Indonesia. Selama ini, keluhan yang dialami pihak industri dalam negeri lebih banyak akibat tidak lakunya produk mereka di pasaran lokal. Konkretnya, mereka mengeluh produk lokal kalah saing dengan produk luar negeri. Artinya, produk impor ternyata masih banyak diminati konsumen Indonesia. Kepala Pusat Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri P3DN Kementerian Perindustrian Kemenperin Nila Kumalasari sempat mengulas hal ini di sela pameran Indonesia Sustainable Procurement Expo ISPE 2022, di Nusa Dua, Bali, Jumat 3/6/2022 lalu. Dia mengakui, keluhan yang paling sering terjadi di lapangan, yakni tidak dibelinya produk dari produsen lokal. Meski kata dia, selama ini mereka sudah melengkapi diri dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri TKDN. “Keluhan selama ini, sebagian besar produk dalam negeri, tidak dibeli atau tidak laku di pasaran lokal. Sehingga, banyak perusahaan-perusahaan enggan untuk memperpanjang sertifikatnya atau tidak mau mengusulkan yang baru,” kata Nila dalam keterangan resmi, dikutip pada Minggu 12/6/2022. Bagaimana cara produsen lokal untuk bersaing dengan produk luar negeri? Terkait persaingan produk lokal dengan produk impor ini, menurutnya ada dua sisi di pasaran yang harus tetap dijaga pelaku industri dalam negeri, yakni dari sisi demand dan supply. Ia menjelaskan, sisi demand harus dijaga dengan terua menggalakkan upaya membeli produk dalam negeri. Kemudian dari sisi supply juga harus dijaga untuk memenuhi kebutuhan demand. “Jadi, dua-duanya kita tidak bisa saling menyalahkan, gara-gara demand, tapi memang untuk tadi kita ngomong skala ekonomi, itu kuncinya ada di demand. Kalau ada yang mau beli, tentu industri harus siap,” ucapnya. Untuk sisi demand, saat ini pemerintah harus mulai bergerak dulu, baru industrinya. Kemudian, untuk industrinya, harus tetap menjaga ketersediaan. Sehingga nantinya hal ini akan menjadi berkesinambungan terus. “Jadi hubungan ini harus kontinu, dan perbaikannya juga kontinu, harus improvement terus-terusan,” sambungnya. Kenapa produk lokal kalah bersaing dengan produk impor? Diungkapkannya, selama ini, kendala yang mengakibatkan produk mereka tidak laku di pasaran, karena selama ini masyarakat terlanjur terlena dengan produk impor. Kondisi ini membuat produk lokal kalah saing dengan produk luar negeri. Dia memberi contoh, ketika seseorang memasuki masa pendidikan, alat-alat laboratorium yang digunakan misalnya, semua merupakan produk impor. “Sewaktu menjadi mahasiswa misalkan di kedokteran, dokter-dokter, suster sudah terbiasa dengan produk luar. Kemudian, tiba-tiba menjadi PNS, diminta pakai produk lokal, bisa dibayangkan, karena kan produk itu tidak hanya kualitas, tapi kenyamanan,” ujarnya. Lebih lanjut kata dia, terkait produk, memang ada orang yang suka merek-merek tertentu, yang menyangkut masalah kenyamanan. Ini terjadi karena sudah nyaman dengan produk impor. Untuk bisa dialihkan ke produk lokal atau dalam negeri, menurutnya perlu perjuangan. “Ini juga harus kita hargai bareng-bareng, jika demand sudah berkenan menggunakan produk dalam negeri, ya kita harus apresiasi dong,” jelasnya. “Sehingga bentuk apresiasinya, kita jaga tuh produsen dalam negerinya, untuk memberikan yang terbaik. Misalkan nanti di tengah jalan ada yang kurang-kurang, atau dalam tanda petik ada rusak-rusak, ya harus memberikan pelayanan yang prima,” tegasnya. sumber kompas
Semakin banyak nya produk asing di pasar Indonesia yang merupakan buntut dari perdagangan bebas di era globalisasi, membuat banyak industri lokal banyak yang runtuh karena tidak mampu menahan persaingan yang begitu berat dan daya saing produk Indonesia seakan sirna oleh produk-produk asing. Berikut solusi untuk meminimalkan produk nasional agar tidak kalah saing oleh produk impor 1. Meningkatkan daya saing agar dapat berkompetisi dengan produk impor terutama produk impor dari China. Caranya adalah dengan memperbaiki masalah infrastruktur. Karena mustahil bagi Indonesia untuk bersaing dengan China bila tidak ditopang dengan infrastruktur yang memadai. 2. Mengeluarkan kebijakan safeguard Kebijakan safeguard disisni yaitupengenaan Bea Masuk Tindakan Pengamanan BMTP. Strategi ini dilakukan jika memang pemerintah tidak mampu berkompetisi dengan beberapa sektor perdagangan luar negeri sehingga produk impor tidak terlalu banyak di negara kita. 3. Solusi complementary Seperti apa yang dikatakan oleh A Prasetyantoko analis kebijakan dari Center for Financial Policy Studies, Indonesia perlu memperhatikan struktur produksi dan ekspor mana yang berbeda dari negara luar. Jadi apa yang tidak di produksi di negara luar, maka produk itu dapat dijadikan produk ekspor andalan Indonesia ke negara luar. Itulah yang disebut dengan solusi complementary atau kebijakanperdagangan yang saling melengkapi antara Indonesia dengan negara luar. 4. Solusi Voluntary Export Restraint VER Dengan VER, Indonesia dapat meminta negara luar untuk secara sukarela membatasi ekspornya ke Indonesia. Caranya adalah dengan meminta negara luar mencabut subsidi ekspor dan membeli lebih banyak lagi dari Indonesia. 5. Standarisasi bagi sebuah produk Dengan penerapan standarisasi bagi sebuah produk diharapkan mutu dari suatu produk terjamin, sehingga masyarakat kita akan lebih percaya terhadap produk yang dihasilkan dari dalam negerinya sendiri. Dengan penerapan tindakan ini diharapkan dapat meminimalisasi pasokan barang-barang impor sejenis. 6. Turunkan pajak ekspor semaksimalnya, dan perketat masuknya barang impor yang tentunya dengan harga yg demikian murah dapat menghancurkan industri dalam negeri yang baru bertumbuh. 7. Perketat pengawasan dana asing yang masuk ke negeri ini. Jangan sampai perusahaan-perusahaan nasional kita dikerjai’ kembali oleh investor2 asing. Butuh kejelasan porsi kepemilikan usaha Domestik/Foreign, dan sedikit ketegasan terhadap pemindahan dana usaha ke luar negeri. source
Saat ini mudah-mudahan didengarkan pemerintah, karena kita ketinggalan akibat kebijakan pemerintah, baik itu dari sisi regulasi,"Jakarta ANTARA News - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Apindo Sofyan Wanandi menyatakan bahwa hingga saat ini produk-produk buatan Indonesia masih belum mampu bersaing dengan produk-produk impor khususnya dari China. "Kita itu memang memerlukan barang-barang murah seperti dari China tersebut, namun kita masih belum bisa bersaing dengan barang impor itu," kata Sofyan, di Jakarta, Selasa. Sofyan mengatakan, masih banyak penyebab dan kendala yang membuat produk-produk Indonesia tidak mampu bersaing dengan produk impor dan salah satunya adalah ketertinggalan Indonesia terkait dengan kebijakan regulasi. "Saat ini mudah-mudahan didengarkan pemerintah, karena kita ketinggalan akibat kebijakan pemerintah, baik itu dari sisi regulasi," kata Sofyan. Sofyan menjelaskan, selain itu masih ada pekerjaan rumah lama seperti masalah infrastruktur, produksi biaya tinggi, dan juga upah buruh yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan China dan Vietnam. "Semua ini tidak lepas dari kebijakan yang salah dari pemerintah dengan tidak segera melakukan perbaikan," tegas Sofyan. Sebelumnya, pada Minggu 3/2, Kepala Badan Pusat Statistik BPS Sulawesi Utara Dantes Simbolon mengatakan bahwa China mencatatkan diri sebagai negara pemasok utama berbagai jenis barang kebutuhan pokok bagi masyarakat Sulawesi Utara selama 2012 dengan nilai 33,1 juta dolar AS. "Impor berbagai jenis produk kebutuhan masyarakat dari China mengalami peningkatan berkisar 84 persen dibandingkan 2011 yang hanya sebesar 18 juta dolar AS," kata Dantes, di Manado, Minggu. Dengan peningkatan impor dari China hingga mencapai 84 persen pada 2012, kata Dantes, negara tersebut mendominasi pangsa impor Sulut sebesar 27,09 persen. "Banyak produk China yang masuk ke Sulut tahun 2012 dengan kecenderungan terus meningkat dari tahun ke tahun," kata Dantes. Negara lain yang produknya banyak dibeli masyarakat Sulut, yakni Australia 20,3 juta dolar AS 16,61 persen, Malaysia 16,9 juta dolar AS dan Thailand 12,4 juta dolar AS atau pangsanya masing-masing 13,79 persen dan 10,16 persen. Total impor Sulut dari berbagai negara mancanegara pada tahun 2012 tercatat sebesar 122,2 juta dolar AS turun 15,35 persen dibandingkan tahun 2011 yang kala itu masih mencapai 144,4 juta dolar AS. V003/B012Editor Tasrief Tarmizi COPYRIGHT © ANTARA 2013
supaya produk indonesia tidak kalah dengan produk impor kita harus